Assalamualaikum wr. wb
Anton melaporkan lagi untuk IRPS
Sabtu, 9 Februari 2008, adalah kelanjutan dari penelusuran jalur mati dan direncanakan untuk menyusuri jalan rel dari Wonosobo sampai Purwokerto Timur (Jalur SDS). Jalur ini unik karena kebanyakan jalurnya seperti mengikuti alur Sungai Serayu khususnya dari Wonosobo sampai Klampok. Perjalanan ke Wonosobo di awali dari Temanggung. Setelah seharian Trekking dari Yk-Parakan, kamipun istirahat di wisma yang cukup nyaman namun ringan di ongkos. Pagi hari, saya bangun jam 5 pagi, ternyata Mas Kris dan Pak ADL sudah bangun lebih dulu. Setelah mengumpulkan nyawa, sayapun sholat shubuh
kemudian nonton TV sambil menikmati udara pagi dan kudapan gorengan yang dibelikan Mas Kris dan rambutan yang tersisa.
Kang Asep yang datang dari Surabaya ternyata sudah sampai di Terminal Temanggung. Mobil belum datang, mana HP Mas Bagas ternyata empty batt, sehingga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Mobil dan Mas Bagaspun datang. Ditemani Mas Kris, mobil menjemput Kang Asep yang ternyata sudah tidak berada di terminal namun sudah mulai jalan kaki (Ni Orang g punya cape kali ya….)
Rombongan akhirnya komplit, saya, Pak ADL, Mas Kris, Kang Asep dan driver siap meluncur ke Wonosobo. Namun sebelum ke Wonosobo, kami hunting jembatan tinggi di pinggir kota Temanggung. Selain itu, kami juga pergi ke Parakan untuk mengambil ulang gambar Stasiun Parakan (dengan terlebih dulu ke Stasiun Temanggung lagi). Sesampainya di Parakan hujan menyambut kedatangan kami. Dalam kondisi hujan, kami memoto ulang Stasiun dan jembatan yang patah. Di sini saya menerima pesan dan telepon dari Mas Ersta yang akan menyusul kami. Kami putuskan untuk menunggunya di Wonosobo atau Banjarnegara saja (Tak tutuki kowe Ta, bengine ngomong ra sido jebul sido, hahahahaha…). Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dalam kondisi hujan dan memasuki “blank zone” dimana tidak ada jalan rel di antara Parakan-Wonosobo. Meskipun demikian, di sisi kanan atau kiri jalan terdapat tiang telepon yang bentuknya mirip dengan tiang telegraf-nya sepur. Parakan-Wonosobo memang dari kondisi geografisnya kurang memungkinkan untuk dibangun jalan rel. Topografi yang berupa pegunungan dan terdapat dua Gunung yang berdekatan yaitu G. Sindoro dan G. Sumbing. Meski tidak ada jalan rel, saya cukup menikmati indahnya perjalanan.
Memasuki Kota Wonosobo, kami memutuskan untuk putar-putar kota. Menurut Pak ADL, biar insting railfan yang membawa kami ke Stasiun Wonosobo. Saya mencoba bertanya pada Mas Adit Schu, namun dia juga tidak begitu tau “ancer-ancer”-nya meskipun dia sudah pernah ke sana. Setelah berputar-putar sampai alun-alun, kami menemukan patok dari rel, dan ini artinya sudah tidak jauh dari kompleks stasiun atau jalur jalan rel. Akhirnya kami berputar kembali. Sambil mengisi pulsa, saya bertanya kepada si penjaga counter, dari mba’nya kami mendapatkan arah ke Stasiun Wonosobo. Sampailah kami di Stasiun Wonosobo. Kompleks stasiun terdiri dari bangunan gudang dan bangunan stasiun. Stasiun Wonosobo ada di Jalan R. Kol. Karjono, dekat dengan RSU Wonosobo. Di depan Gudang, sekarang menjadi terminal mikrobus sedangkan bangunan stasiun sendiri menjadi ruko, namun bentuknya masih dapat dilihat dengan jelas.
Kamipun bergegas untuk memotret dan melihat-lihat sisa-sisa kejayaan SDS ini. Stasiun Wonosobo memiliki paling tidak 2 sepur pada emplasemen dan 4 sepur ke gudang. Rel dan wesel masih kelihatan meskipun banyak juga yang sudah terkubur atau diambil.
Kebetulan sekali pada hari itu, Pak KS Wonosobo (meskipun sudah bukan merupakan lintas aktif, tapi ada KS-nya lho) sedang berada di stasiun. Beliau bernama Bapak Sudiono. KS Wonosobo juga merangkap sebagai KS Banjarnegara dengan jadwal dinas adalah Senen sampai Rabu di Banjarnegara dan Kamis sampai Sabtu di Wonosobo. Untuk Stasiun yang lain, di Stasiun Sokaraja, terdapat petugas dari Divisi Operasional (Juru Gambar). Kami sempat beramah-tamah dengan beliau dan mendengarkan dengan seksama cerita dan informasi yang beliau sampaikan. Beliau dulu merupakan masinis dan sempat tugas ke Wonosobo, namun tidak merasakan lok uap karena beliau sudah membawa lok-lok DH ke Wonosobo. Pada masa jayanya, angkutan Wonosobo-Banjarnegara-Purwokerto merupakan angkutan campuran antara barang dan penumpang. 1 Rangkaian dapat mencapai 5 gerbong. Angkutan barang biasanya adalah hasil bumi seperti sayuran dan tembakau. Pada masa lok DH, jadwal kereta adalah 2 kali dari Wonosobo yaitu pagi dan sore, serta 2 kali dari Purwokerto pagi dan sore juga, sehingga ada 2 rangkaian yang digunakan. Diantara stasiun-stasiun, yang memiliki depo adalah Stasiun Banjarnegara dan Stasiun Klampok.
Tugas KS Wonosobo ternyata lumayan berat, karena menjaga aset dan properti PT KA yang terbujur dari Banjarnegara hingga ke Wonosobo. KS Wonosobo dapat dikatakan sebagai orang Ops yang dikaryakan di Divisi Properti. Beliau pernah dinas di Cilacap juga. Rumah beliau di Mrican, Kab. Banjarnegara sekitar 1 jam perjalanan dari Stasiun Wonosobo. Dari informasi yang disampaikan, ternyata di dekat Stasiun, terdapat wisma PT KA yang dapat digunakan untuk umum, jadi apabila ada teman-teman yang pengin main ke Wonosobo dan butuh penginapan dapat menginap di sana. Setelah puas foto-foto dan saling bertukar cerita, kamipun pamitan dan berfoto bersama di dekat pengendali sinyal yang tersisa di dekat pintu stasiun.
Perjalanan dilanjutkan. Menurut update posisi, Mas Ersta sudah di Secang dan Mas Adit Schu sudah masuk Mrican, sehingga posisi “silang” dan “susul” kami tetapkan fix di Banjarnegara. Diantara Wonosobo-Banjarnegara, rel beberapa kali menyilang dengan jalan raya. Sebelum keluar kota 1 kali. Di batas kota ada yang membuat saya penasaran (lihat postingan: Jalur Wonosobo). Kami berhenti untuk memoto persilangan jalan rel dimana rel lewat di atas jalan raya. Jalan raya ke arah Banjarnegara adalah menurun dan posisi jalan rel sangat tinggi di atas jalan raya. Namun, beru beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba mobil bergetar khas melewati silang datar kereta api, dan benar, jalan rel ternyata sudah setinggi jalan raya, padahal jalan menurun. Anehnya lagi adalah silang datar ini sejajar dengan silang sebelumnya. Saya jadi ingin menelusuri jalur diantara dua persilangan ini, memutar seperti apa bisa sampai seperti itu.
Kemudian jalan rel menghilang dari pandangan. Kami melihat lagi jalan rel saat menyeberang Kali Serayu (atau Kali Galuh menurut warga). Jembatan ini sekarang menjadi jembatan jalan setapak yang digunakan oleh warga. Bentuk fondasi jembatan ini unik karena berupa 2 fondasi sumuran yang sangat besar. Kamipun memotret2 di sana. Setalah itu, perjalanan dilanjutkan. Jalan rel selalu berdampingan dengan jalan raya. Kadang di atas, kadang di bawah. O ya, bagi pecinta rafting, ada tempat untuk menyalurkan hobinya di Sungai Serayu lho, lewat saja jalan raya Wonosobo-Banjarnegara, nanti akan melihat papan namanya di tepi jalan raya. Jalur jalan rel di antara Wonosobo-Banjarnegara sebenarnya sangat indah. Jalan rel sering melewati jalur tinggi dan beberapa kali menyilang jalan raya secara overpass. Beberapa jembatan di tepi jalan raya juga sangat bagus karena letaknya yang tinggi.
Memasuki kota Banjarnegara, jalan rel berada di sebelah kiri jalan raya dan melalui jalur tinggi. Kami sempat lewat di depan Stasiun Banjarnegara, namun belum langsung hunting karena menjemput Mas Adit Schu dulu. Setelah itu, kami makan siang sambil menunggu Mas Ersta yang katanya sudah sampai Wonosobo. Saat makan siang selesai, hujan turun dengan sangat deras, sehingga kami harus menunggu beberapa saat. Kamipun langsung menuju Masjid Agung Banjarnegara untuk melaksanakan istirahat dan memberi kesempatan untuk sholat setelah makan. Dalam perjalanan menuju Stasiun Banjarnegar, kami mampir dulu di Terminal untuk menjemput Mas Ersta, ada sekitar 15 menitan kami menunggu dan akhirnya Mas Ersta datang.
Stasiun Banjarnegara kami tuju, dan kami foto-foto disana. Di Stasiun Banjarnegara terdapat sisa sinyal tebeng, gudang, bangunan stasiun, sisa depo, dan satu ketel. Stasiun ini lumayan bagus, karena gentengnya sudah diganti baru dan bentuk aslinya masih terlihat jelas. Hujan yang masih rintik-rintik tidak menghalangi semangat kami dalam hunting di stasiun ini. Puas di Stasiun Banjarnegara, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Klampok. Di Purwonegoro kami sempat melihat sinyal tebeng, namun bekas stasiun maupun emplasemen sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya kami sampai di Klampok. Stasiun sudah berubah menjadi ruko, namun bekasnya sedikit terlihat karena terdapat bekas pengait kabel telegraf dan genteng bangunan yang berbeda sendiri. Bekas menara air juga masih terlihat, namun sisa depo tidak dapat kami temukan. Di belakang stasiun terdapat beberapa bangunan yang dulunya adalah rumah dinas (KS Klampok). Bekas emplasemen stasiun juga sudah tidak tampak lagi.
Dari Stasiun Klampok kami menuju ke Purbalingga. Jalan rel dari Klampok menuju Sokaraja jauh dari jalan raya sehingga tidak terdeteksi.
Antara Klampok-Purbalingga tidak ada jalan rel yang dapat kami lihat. Akhirnya kami sampai di Purbalingga. Awalnya sulit menemukan letak stasiunnya, sehingga atas usul saya, menuju ke arah Terminal dimana saya pernah melihat sisa rel sehingga akan lebih mudah mencari arah ke stasiun. Pak ADL juga menanyakan pada Wasiop Daop V, dan atas informasi beliau, posisi stasiun adalah di jalan raya dekat dengan Terminal Purbalingga dan sekarang menjadi pusat penjualan tiket. Kami menyusuri jalan raya tersebut dan benar ada patok-patok rel. Namun hingga lewat terminal, bangunan stasiun belum ditemukan. Akhirnya kami memutar lagi dan saya melihat ada bangunan dengan lambang PT KA. Kamipun kesana dan benar di situ memang terdapat tulisan Stasiun Purbalingga. Namun, kami semua sebagai railfan sangat tidak percaya bahwa dulunya bangunan ini adalah stasiun. Dilihat dari bentuknya dan juga posisinya (ternyata di dekat bangunan itu terdapat wesel). Akhirnya kami berjalan menyusuri jalan raya dan mencari bangunan yang dulunya benar-benar stasiun. Benar saja, dari informasi penduduk yang diperoleh oleh Mas Kris, ternyata bangunan stasiun dulunya ada di dekat Kawasan Industri Boyang (Boyang Industrial) yang sekarang merupakan warung gudeg dan terminal mikrobus dan ujung rel ada sekitar 100 m dari situ, yang kini berupa warung. Sisa bangunan sendiri sudah tidak terlihat sama sekali, hanya ada rumah kos yang bentuk rangka atapnya mirip dengan gudang di Stasiun Banjarnegara. Kamipun sepakat bahwa Stasiun Purbalingga “baru” bukan berlokasi pada bekas stasiun aslinya.
Dari Purbalingga, kami menuju ke Stasiun Sokaraja. Pada perjalanan ke sana sebenarnya kami melewati Stasiun Banjarsari, namun tidak sempat hunting. Stasiun Banjarsari merupakan tempat dimana terdapat percabangan ke Purbalingga. Stasiun ini terletak di sisi kiri jalan (arah Purwokerto), di dekat tikungan jalan raya dan sekarang menjadi tempat kayu lapis. Stasiun Sokaraja merupakan stasiun yang besar juga. Ada paling tidak 6 sepur. Bentuk stasiun masih jelas terlihat. Sisa menara air juga masih ada, namun kompleks emplasemen sudah disesaki oleh rumah warga. Kami sempat ditanya apakah sedang survei untuk menghidupkan kembali jalur tersebut
. Menurut informasi dari Bapak bersepeda ontel, di Stasiun ini terdapat percabangan ke Pabrik Gula, Pabrik Keramik dan Pabrik Terigu atau Tapioka ya?. Beliau juga dulu sering naik kereta dengan karcis abodemen (piye to nulise?). Selain Stasiun Sokaraja, terdapat juga Stasiun atau Halte di Sangkal Putung (perempatan dari/ke arah Terminal Purwokerto di Sokaraja). Dulunya Sokaraja memang banyak pabrik gula dan terdapat banyak jalur lori. Kami memang melihat sisa baan ke arah pabrik gula (PG Kalibagor). Di dekat stasiun terdapat masjid, sehingga beberapa dari kami dapat menyempatkan sholat Ashar.
Dari Stasiun Sokaraja kami langsung meluncur ke Stasiun Purwokerto Timur. Kami lewat Jalan Jend. Soedirman di Berkoh, dimana jalan rel berada di sebelah kanan kami. Jalan rel menyilang di perempatan depan SriRatu Plaza. Akhirnya kami sampai di Stasiun Purwokerto Timur. Tumben hari itu tidak ada GGW yang biasanya mangkal di dekat gudang, namun terdapat bekas rel baru dilewati (ternyata 2 hari sebelumnya baru dilewati oleh lori). Stasiun Purwokerto Timur terletak di depan Kantor Daop V. Bangunan utama kini menjadi restoran Pizza Papa Ron’s. Namun tetengernya adalah Wartel yang bernama Stasiun Timur. Bekas spur 1 di Stasiun Purwokerto Timur kini ditimbun bangunan. Di sana ada 3GW, 1 GW yang menjadi rumah tunawisma, dan 2 lainnya dalam posisi yang tidak wajar. Sisa timbangan juga masih terlihat. Ada satu buah wesel yang unik, namun sayang sudah tidak berfungsi. Sebuah sisa sinyal tebeng juga masih dapat dijumpai. Mengakhiri perjalanan kami, kamipun berfoto di dekat PJL.
Alhamdulillah perjalan selesai juga. Setelah ini kami beramah tamah dengan Wasiop Daop V Purwokerto.
Thanx to God, ALLAH SWT atas kemudahan dan keselamatan kami selama trekking, Alhamdulillah perjalanan kami berjalan lancar.






foto2 nya dong anton,, walau dari wonosobo, aku jarang banget “take a picture” je..
iya, aku cuman pernah diceritain aja kalo di wonosobo sempet kereta2….
hiks..jadi baru ngerasain kereta dulu itu 24 maret 2007 ya ton…
aku masih belajar upload foto mba…,
Eh naik kereta, tapi bukan kereta api, hehehehe, tapi KRD alias Kereta Rel Diesel….
endi trip repote pwt-pkt???
menyusul
Mas keren banget laporane, jalur mati laen tlah menunggu disusuri….
Kang,
Nek arep ana acara nyusur nyusur kaya kuwe maning aku melu..
tedi
Assalamualaikum
Salam kenal, Alhamdulillah saya ketemu tetangga saya dari karang lewas kidul. Dengan ini saya mohon izin untuk memuat tulisan Mas Anton ini ke web inyonge.com karena isinya menarik dan perlu dibaca oleh warga panginyongan. Atas izinnya kami ucapkan terima kasih.
Mbaca artikel ini jadi inget jaman pas masih SD
tahun 90an masih ada lori buat ngangkut tebu lewat di
depan gang.
Stasiun Sokaraja sekarang memang sudah banyak dibangun rumah penduduk. Lintasan rel KA memang banyak di Sokaraja- Kalibagor, dulu dipake buat ngangkut tebu ke Pabrik Gula Kalibagor.
Pak kalo ada fotonya lebih menarik kayaknya, nanti kalo saya pulang kampung lagi, akan coba saya ambil fotonya sekalian nostalgia dan adventure pake sepeda.
Sukses Selalu
Irawan
Sebelum tahun 2000 kali logawa dilihat dari jalan dari arah Ajibarang sungguh elok dilihat dengan latar belakang gunung slamet. Dan ini aset berharga kota Purwokerto. Tapi sekarang tertutup bangunan. Sungguh memilukan !!! Ini saya saksikan taktala dalam perjalanan dari Bandung ke Wanayasa Banjarnegara. Saya SD tinggal di Purwokerto dengan keindahan yang masih alami sungai-sungainya. Dan sekarang di karesidenan Banyumas yang masih tersisa di sebelah utara kota Banjarnegara. Semoga tidak ketularan joroknya sungai-sungai yang melintas kota-kota besar di Jawa pada umumnya. Mari kita jaga lingkungan kita sebagai anugrah Tuhan YME. Kalau perlu bangun rumah susun hemat lahan, seperti rumah panggung, sehingga banyak tersisa lahan yang akan meredam polusi secara alami (normatif).
Numpang Komen….buat fanrail Mr bantons…
Mungkin bisa lanjutin atau tambahan cerita napak tilas …Dari stasiun Klampok ke arah Sokaraja…ada jalan kecil menuju desa Wirasaba, melewati jembatan kali serayu, dari arah jembatan serayu tampak lapangan udara Wirasaba..untuk ke wirasaba ini, rel nya sekarang sudah diambil/ditimbun tanah, sedangkan jembatan difungsikan untuk sepeda motor/pejalan kaki/becak dari Klampok ke Wirasaba…untuk ke Wirasaba seharusnya bisa muter lewat desa kembangan sampai nanti di ujung landasan, bekas jalur kereta ini akan terlihat,. Pun pemandangan dari atas jembatan kereta ini lumayan bagus, dari jauh bisa terlihat Gunung Slamet, dan di sisi kiri arah selatan terlihat pegunungan serayu. Tepat setelah jembatan ada emplasemen sejak jaman belanda yang digunakan untuk langsiran kereta yang mengangkut hasil pertanian mbah moyangku dulu dari kawunganten. Jalur kereta dari wirasaba ke sokaraja kondisinya sekarang hanya sedikit tersisa bantalan rel, setelah itu ada stasiun Karang kemiri di Kemangkon (deket Sumanto loh)..seterusnya bisa ketemu di Banjarsari..Sekitar tahun 1985 jalur ini masih aktif..Jadi kalo ada rencana untuk mengaktifkan jalur ini…wah bagus banget, bisa pulang ke Wirasab, apalagi ada wacana lap udaranya mau dikomersilkan…sekian
Makasih banyak Mas, ini bener-bener menyambung THE MISSING LINK…karena saya g tau lagi jalan rel dari Klampok pas tu kemana, tau2 ketemu di Banjarsari aja,,
Kapan ada waktu bisa trakking ni kesana soalnya belum pernah, kalau lewat Kemangkon si pernah, tapi ga memperhatikan adanya bekas BAAN-nya.
Seandainya saja jalur2 itu dmanfaatkan sbagai jalur wisata seprti di ambarawa.Purwokerto timur-wonosobo rasanya lumayan indah.Warga Di kampung saya (Temanggung) sangat merindukan kereta itu.Hmmmm.Kalo pemerintah kolonial aja bisa membangun,mengapa pemerintah yg modern ini hanya bisa menutup?
wah saya senang sekali nih tracking di jalur mati ……mohon di inpohkan ya……
ceritanya bisa detail banggeettt,..aku pernah ke stasiun kereta wonosobo, tapi aku gak kepikiran buat cerita,..tolong muatkan foto-fotonya dong,.asyik banget, soalnya dulu aku pernah ke dieng pake motor dari brebes-wonosobo, perjalanan kira2 8 jam, truzz aku nginap di rt yaitu di derah dieng,…tolong foto2nya di upload, tks
Lam kenal..
Saya termasuk penggila kereta api jg lho.. seandainya jalur pwkerto – wonosobo diaktifkan…. mkin cocok sekali untuk jalur KA wisata karena pemandangan nya bagus bget tuh. Terutama untuk jalur Banjarsari trus muntang kr kemiri klampok s.d wn sobo pemandangan alamnya siip bgt sawah, sungai dan pegunungan….
wah…kalau bicara rel dan kereta…jadi ingin hidup di zaman dulu…zaman rek-rel itu masih aktif
….Nice trip dan info Ton!!
Aduh yang wonosobo gate itu..hiks2..jadi pengin pulang rasannya..soalnya rumahkau 100 meteran lah dari situ..hiks hiks hiks….
wah, mantap laporannya mas..
kalo rel2 itu bisa dihidupkan lagi buat wisata kayaknya mantap tuh. bisa jadi aset daerah.
atau bahkan benar2 jadi angkutan massal, kecuali kita memang sudah tak berdaya pada kong kali kong industri otomotif yang hanya bikin kaya segelintir manusia.
sekali lagi tetep semangat mas sama ekspedisinya!
Salam kenal,..
ternyata trekking itu menyenangkan ya…
Aku asli wonosobo tapi aku kurang begitu tahu sejarah sepur yang ada di wonosobo karena waktu sedang jayanya sepur aku belum lahir,..
setelah baca artikel ini jadi tambah pengetahuan deh,..
Bravo mas Anton,Lanjutkan lagi petualanganmu…
saya tertarik sekaligus terharu akan keperdulian para fans yunior untuk peduli mengadakan penelusuran jalur mati pwt wonosobo, yang memang masih dikata jejak-jejak seperti rel dan jembatan boleh dikata masih utuh dibandingkan kalau kita melacak jalur mati mulai semarang kudus pati rembang sampai blora yang sangat mngenaskan, boleh dibilang rel-relnya hilang semua dan stasiun sudah berubah fungsi menjadi pasar yang mana kalau ada inisiatif dihidupkan samasaja dengan membuat jalur baru.
Untuk itu perlu kita slamatkan jalur pwt wonosobo agar tidak hilang atau musnah. Trimakasih
seharusnya pemerintah daerah ikut menjaga aset dan melestarikan peninggalan sejarah perkereta-apian di Indonesia, krn Indonesia adalah negara ke-2 di asia yg menggunakan kereta api sebagai sarana pemersatu.. apalagi jawa tengah, dimana jaringan kereta api pertama dirilis.. bila pemkot solo bisa mewujudkan wisata kereta api, mengapa purwokerto tidak bisa ????? toh selepas stasiun pwt timur kita juga bisa menikmati rel kereta sejajar dengan jalan utama kota pwt… hingga minimal sampai sta. sokaraja dmn kita bs menikmati berbagai oleh2. bukan hanya dana yg menjadi penghambat, namun tidak ada kepedulian untuk menjaga dan mengembangkan pariwisata khususnya untuk purwokerto.. terima kasih.