Bus TransJ terbakar ,,, http://news.detik.com/read/2012/06/02/125224/1931060/10/bus-transj-terbakar-hebat-di-bundaran-hi-2-armada-pemadam-dikerahkan?nd992203605

TransJ Busway Koridor 1 Terbakar
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/06/02/14210978/Transjakarta.Habis.Terbakarhttp://megapolitan.kompas.com/read/2012/06/02/14210978/Transjakarta.Habis.Terbakar
Wah,,, transportasi massal kita seperti ini.. sangat disayangkan, tulisan ini diawali dengan berita seperti itu…
……………………………………………………………………………………………………………..
Tahun 2006, atau 2005 akhir agak lamat-lamat ingatan saya, adalah kali kedua ke Ibukota. Kali ini perjalanan agak istimewa, karena ABIDPRI atau Atas BIaya PRIbadi, untuk ukuran seorang mahasiswa rantau di Jogjakarta. Melalui Kereta Senja Solo, dari Jogjakarta, setelah merayapi jalan baja, sampailah menjejakkan kaki di Jatinegara (kala itu masih bisa turun di sana) pada jam 4 pagi. Takjub rasanya melihat hingar-bingar stasiun di waktu yang masih segelap itu. Ojek, bajaj, dan angkot, dan taxi saling berebut penumpang, menjadi pemandangan saat seorang sahabat datang menjemput.
BUSWAY, ya inilah salah satu moda transportasi baru yang menjadi salah satu KEHARUSAN untuk dinikmati dalam perjalanan ini. Moda transportasi yang masih sangat-sangat baru, dan lumayan revolusioner kala itu di Ibukota yang di bangun pada masa Bang Yos menjadi Gubernur di sana. Maka pada hari pertama, langsung menuju halte Busway meskipun jauh dari tempat menginap.
Sebenarnya BUSWAY bukanlah modanya, namun jalurnya. Kalau modanya ya bus Trans Jakarta atau TransJ yang berjalan pada jalur khusus dan berhenti pada tempat khusus. Jalur khusus tempat bus itulah yang namanya BUSWAY, sedangkan busnya ada beberapa macam karena terdiri dari beberapa operator, yang bisa dilihat dari nomor bisnya,, ada yang JET artinya itu dari Jakarta Express Trans, ada yang TB artinya dari Trans Batavia, dan yang lain,..
Pengaman pertama menggunakan TransJ, menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Shelter yang bersih, berpendingin, masih sepi, bus yang sangat bersih, SEJUK karena AC, dengan jalur tersendiri yang lebih bebas macet. Pemberitahuan mengenai Halte yang ada di depan menggunakan LED dan Speaker adalah sesuatu yang sangat mengesankan, dengan tentu saja petugas yang ramah dan sopan. Sopir menjalankan bus TransJ ini tanpa takut akan setoran, karena sudah digaji dan tidak mungkin untuk kebut-kebutan di jalur khusus yang hanya bisa dilalui oleh satu per satu bus.
Bus menggunakan bahan bakar gas, dan karoseri yang modern. Gantungan pegangan tangan terpasang baik dan menjadi sarana iklan. Tiket modern menggunakan kartu dan pintu otomatis di Shelternya, wow langsung terngiang mata kuliah teknik transportasi, tentang angkutan umum yang ideal, yang sudah didekati oleh bus TransJ ini.

Tiket Bus TransJ saat itu
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_8FhRabUf5EA/Rq_ZfZ8HZ9I/AAAAAAAAAkc/y_UAxALBvQU/s320/Line+1+Launching4.jpg
Kartu tiket TransJ saat itu yang masih baru dan menarik, bahkan membuat seorang teman mau mengoleksinya dengan cara membeli tiket sekaligus dua, satu untuk naik bus, satunya dikoleksi, hehehhe…
Pada Awalnya, sopir Bus TransJ katanya di rekrut dari sopir bus yang jalurnya di ambil alih oleh BUSWAY. Seorang sahabat yang penasaran, ingin membuktikan. Caranya dia mengetuk kaca TransJ dengan uang logam, “Tek-Tek-Tek”,, dan saat itu juga bus mengerem untuk berhenti. Hahahaha,,, ternyata benar.
Pembagian jalur TransJ dinamakan Koridor,, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar berikut
Pada hari yang sama, tidak lupa juga mencoba moda transportasi yang juga khas kota metropolitan, yaitu kereta api komuter, dalam hal ini KRL. Kesan pertama memasuki stasiun, sangat bertolak belakang dengan kesan saat menggunakan jasa TransJ. Kumuh, kotor, bau, panas, berjejal, padat, dan lama menunggu. Saat KRL datang, sangat penuh sesak didalamnya (maklum KRL ekonomi). Jalur yang dilalui meskipun double track tetap padat, namun bukan oleh Kereta, oleh kekumuhan Jakarta. Sangat bertolak belakang dengan pemandangan sepanjang BUSWAY yang rapi, dan sangat Jakarta dalam bayangan (gedung tinggi, jalan lebar, melewati perkantoran, mall).
Kesialan juga sempat menimpa, saat menaiki KRL ekonomi, apalagi kalau bukan COPET… Ramainya penumpang, dimanfaatkan oleh Oknum-oknum yang ingin mendapatkan uang dengan cara mereka sendiri. Selain itu, karena ramai dan pengab.. banyak juga penumpang KRL khususnya KRL Ekonomi yang memilih naik di atap, karena lebih luas dan lebih “nyaman” meskipun SANGAT JAUH DARI PRINSIP KESELAMATAN, karena di ketinggian tanpa pengaman, serta dekat sekali dengan kabel listrik lintasan atas tegangan tinggi.

KRL
Sumber: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/12/13234502231288395973_300x231.56146179402.jpg
Dengan lebih mudah dikembangkan BUSWAY dibandingkan dengan Kereta Komuter, saat itu dalam hati sempat membuat suatu kesimpulan bahwa pada beberapa tahun ke depan, BUSWAY bisa menjadi angkutan utama, yang bahkan dapat meruntuhkan “kejayaan” kereta komuter atau KRL.
0
0
0
Waktu Berlalu
0
0
0
7 Tahun sudah sejak cerita di atas, Jakarta menjadi tempat keseharian. Ternyata dalam kurun waktu tersebut, perubahan yang terjadi kontras dengan kesimpulan yang pernah diambil. Bus TransJ menjadi suatu bagian hidup saat ini, dan demikian juga dengan Kereta Komuter. 2 Hal ini sama-sama berkembang.
BUSWAY kini memiliki 10 Koridor aktif (per Mei 2012) dari yang hanya 3 pada waktu pertama kali menggunakannya. Kondisi yang lebih baik dari sisi pengembangan ini ternyata tidak diikuti dari sisi pemeliharaan. Kondisi Prasarana seperti Shelter menjadi kumuh, panas, berjubel, tiket kartu berubah menjadi tiket kertas, jalurnya berlubang, bergelombang, ataupun pecah. Dari sisi Sarana, Bus TransJ yang lama dan yang baru terlihat sekali perbedaannya.
Pegangan tangan yang kucel, dengan struktur penyangganya yang sudah rusak, lepas di sana sini, melengkung dan sangat berpotensi untuk membahayakan penumpang. Pintu otomatis shelter yang sudah tidak berjalan, AC bus yang kurang dingin, bahkan terjadi banyak kasus pelecehan, yang bisa jadi karena besarnya kesempatan dari kondisi berjubelnya penumpang. Dan yang paling aktual adalah kebakaran armada seperti di tampilkan di awal tulisan ini.
Kereta KOMUTER atau KRL yang dulu sempat dalam pikiran akan “habis” ternyata masih mempunyai nafas yang kuat. Bahkan kalau mau jujur, sebenarnya sedang berjalan pada jalur yang benar untuk perbaikan. Walaupun “barang bekas pakai”, namun kereta-kereta tersebut layak untuk mengangkut penumpang. Berjejalan masih, namun kondisi stasiun yang kini lebih bisa dikatakan menuju layak. Untuk Keretanya sendiri hal tersebut belum bisa dikurangi karena memang jumlah armadanya yang tidak seimbang dengan penumpang. Sayangnya, dari 2 jenis yang dijalankan, baru kelihatan berkembang adalah yang kelas CommuterLine. Kelas ekonomi seperti dianak tirikan karena sepertinya itu hanya sebagai ajang “kerja bakti” saja. Meskipun demikian, tetap layak diberikan apresiasi terhadap apa yang sudah berjalan saat ini.
Selain dua moda yang sudah ada, ada 2 Moda lagi yang akan dikembangkan. Yang Pertama adalah MONORAIL yang sudah sedang dalam kondisi “freeze”, menunggu Investasi katanya. Monorail ini merupakan mimpi Jakarta untuk mengejar ketertinggalan dari kota-kota Metropolitan lain di dunia. MONORAIL sebenarnya memiliki keunggulan dibanding dua moda yang sudah ada karena jalur yang digunakan independen terhadap kondisi Jakarta. BUSWAY meskipun jalur khusus, tetap saja akan bertemu dengan simpang, dimana Bus TransJ akan mengikuti pengaturan dari Lampu Lalu-lintas (APILL) dimana tetap akan terjadi “delay”, dan kereta KOMUTER atau KRL masih menggunakan “jalur dan stasiun” bersama dengan Kereta-Kereta jarak jauh sehingga kapasitasnya terbatas. Yang Kedua adalah MRT. MRT ini gambarannya adalah seperti KRL dengan jalur yang baru.









